Modernitas Melibas Kreativitas Anak

KREATIVITAS ANAK: Memberi peluang anak untuk menumbuhkan kreativitas diri, membangun peradaban terdepan. (gambar diambil dari www.kabarindonesia.com)

Banyak kemudahan yang kita peroleh di alam modern ini. Kita tidak perlu repot-repot lagi ketika mau mengundang orang yang berada jauh dari kita. Cukup pencet beberapa nomor, suara kita telah sampai di ujung telinga orang yang kita tuju. Lantas komunikasi dua arah dapat terjalin begitu lancar dan dalam hitungan menit bahkan detik, maksud kita telah tersampaikan. Berbagai informasi terkini dapat diikuti tanpa harus menunggu. Hal yang terjadi di Mesir akhir-akhir ini, yakni ”keberingasan” rakyat karena selama puluhan tahun berada dalam kediktatoran Hosni Mubarak, misalnya, langsung dapat kita lihat pada detik yang sama di lain tempat. Tak perlu kita datang ke pusat kota Kairo jika ingin melihat jutaan orang berdemo itu, tapi cukup duduk di depan layar kaca dalam rumah, dapat mengikutinya dengan jelas.

Air minum di rumah habis, kemudian menghubungi agen penyedia air minun lewat telepon, beberapa menit air minum itu telah sampai di rumah. Ada jasa antar, tetapi biayanya relatif murah. Jadi, lebih ekonomis, praktis, dan cepat tersaji. Demikian juga untuk berbagai jenis makanan. Cukup menghubungi agen penyedia makanan lewat telepon, makanan segera diantar ke tempat kita berada. Apalagi jika fasilitas internet tersedia di rumah, kita mau apa saja bakal keturutan. Tidak hanya memesan sesuatu, tetapi berjualan apa saja ke seluruh tempat (yang ada jaringan internetnya) dapat terjangkau. Kita tidak perlu susah-susah datang dari rumah ke rumah calon konsumen. Cukup mengendalikan gerak pemasaran dari dalam rumah, semua barang/jasa yang kita tawarkan sampai ke hadapan calon konsumen. Hal-hal itu, diakui atau tidak, sebagai produk modernitas.

Itulah yang menguatkan saya untuk ”mengamini” pernyataan seorang teman yang mengatakan bahwa anak-anak zaman sekarang begitu mudahnya memenuhi keinginannya. Sebab, semua memang telah tersedia. Tidak perlu membuat sendiri mobil-mobilan, misalnya,  ketika mengingininya. Tetapi, anak cukup membeli saja karena mobil-mobilan itu telah dipajang di rak-rak toko. Bahkan, banyak pilihan dari berbagai segi yang dikehendaki, apa dari segi besar-kecilnya, warnanya, bentuknya, bahannya, dan sebagainya. Kesimpulannya kemudian, segala sesuatu yang dibutuhkan anak (telah) tersedia dengan berbagai alternatif yang menarik.  

Akan tetapi, pada titik inilah saya merasa prihatin. Karena kemodernan ternyata membunuh daya kreasi anak. Coba Anda bayangkan! Karena segala sesuatu yang dibutuhkan anak, taruhlah (saja) misalnya mainan, telah tersedia, anak tak lagi memiliki keinginan untuk membuat mainan. Anak hanya meminta uang kepada orang tua, lantas membeli mainan itu. Dengan begitu, keinginannya telah terpenuhi bukan? Dan, jarang atau bahkan tidak ada (sama sekali) orang tua yang mau menolak permintaan anaknya, untuk kemudian mengajak anaknya secara bersama-sama membuat mainan itu. Alasannya tidak lain adalah karena kesibukan. Maka, yang terjadi kemudian anak-anak menjadi pasif. Bersikap menggantungkan saja. Daya kreasi yang sesungguhnya telah ”ditiupkan” oleh Sang Khalik kepada setiap anak, tidak pernah tumbuh.

Saya akhirnya teringat masa kanak-kakak saya dulu. Bersama teman-teman, saya sering membuat wayang-wayangan dari batang daun singkong dengan cara menganyamnya menyerupai tokoh-tokoh wayang. Membuat topeng dari kelopak batang bambu petung dengan cara menggambar wajah tokoh tertentu di salah satu permukaannya dengan arang kayu bakar. Membuat golek dari pelepah pohon pisang dan menari-tarikannya. Membuat layang-layang dari daun kering pohon gadung. Membuat patung-patungan dari tanah liat yang tersedia di daerah kami. Membuat layang-layang, baik dari bahan plastik maupun kertas. Bahkan kadang kami bersama-sama membuat mobil-mobilan dari pelepah pohon gedobos/rumbia yang telah kering, juga dari kulit jeruk bali.

Bertolak dari semua itu,  kini (akhirnya) saya berpikir bahwa ketika itu anak-anak memiliki daya kreasi yang bisa dibilang relatif tinggi. Karena memang waktu itu, di samping belum ada ”ketersediaan” segala sesuatu yang dibutuhkan anak-anak; bahan dan peralatan untuk berkreasi (sendiri) relatif terjangkau oleh mereka. Akhirnya kreativitas anak-anak terwadahi, dalam arti anak-anak tidak hanya memanfaatkan tetapi juga menghasilkan karya kreatif. Jauh berbeda dengan anak-anak sekarang, yang cenderung hanya ”menggunakan” hasil kreativitas yang memang telah tersedia.

Ditulis pada Budaya | 4 Komentar

Pesta Siaga: Pendidikan Karakter Generasi (Mendekatkan Anak pada Fakta Budaya Lokal, Museum Kretek)

SIAGA BERBAGI: Membangun karakter generasi penerus bangsa melalui kegiatan kepanduan sebagai alternatif pendidikan humanis. (gambar diambil dari sragen.go.id)

Meskipun ritual pramuka umumnya dihelat setiap Agusutus, sesuai dengan hari kepanduan (nasional), tetapi akhir Januari 2011 ini, ternyata ada kegiatan pramuka. Kegiatan pramuka yang diprakarsai oleh Kwartir Ranting (Kwaran) Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng) itu kali ini mengkhususkan bagi pramuka siaga. Boleh jadi karena pramuka siaga lebih didominasi oleh peserta didik sekolah dasar (SD) kelas-kelas rendah, maka kegiatan yang digelar di lingkungan Museum Kretek, Jalan Getas Pejaten, Jati, Kudus, itu dikemas dalam bentuk pesta. Maka, diusunglah sebuah tema, ”Dengan Pesta Siaga 2011, Satu Hati Berbagi Rasa Siaga Ceria”.  

Tema yang diusung itu menelurkan berbagai aktivitas pendidikan karakter, yang dikemas penyelenggara secara praktis dan kontekstual. Ada sepuluh kegiatan inti. Kegiatan itu di antaranya adalah lumbung kemanusiaan, lumbung kepribadian, lumbung kepramukaan, lumbung pembauan/penciuman, lumbung keagamaan, dan taman yel-yel. Kesepuluh kegiatan inti yang mengarah ke pendidikan karakter itu harus diikuti oleh seluruh peserta, yang jumlahnya mencapai kurang lebih 128 barung. Yang terdiri atas, 64 barung putra dan 64 barung putri. Setiap barung beranggotakan sepuluh anak. Semua peserta berasal dari SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang berada di wilayah Kwaran Kecamatan Jati.

Meskipun di lingkungan Museum Kretek masih banyak  dijumpai tanaman yang besar-besar dengan rerimbun daun, terik matahari boleh dibilang cukup menyengat tubuh para peserta. Karena, sejak pagi ketika pembukaan pesta siaga berlangsung hingga berita ini ditulis, tidak hujan, seperti hari-hari sebelumnya. Lokasi lumbung yang diatur secara saling berjauhan (satu dengan yang lain) menuntut para peserta harus hilir mudik ke sana ke mari. Misalnya, barung tertentu  telah menyelesaikan tugas di lumbung kepribadian, barung itu kemudian harus menuju ke lumbung yang lain yang belum diikuti, dan bertugas untuk menyelesaikannya. Meski demikian, masih terlihat ceria paras anak-anak dalam mengikuti berbagai kegiatan itu.

Yang menarik, sebuah pendidikan karakter yang praktis dan kontekstual barangkali dapat dilihat di lumbung kemanusiaan dan penciuman. Di lumbung kemanusiaan, misalnya, para peserta diajak untuk turut berperan nyata dalam membantu korban bencana, yang hampir sering dijumpai di negeri pertiwi ini. Caranya, para peserta memasukkan uang, koin kemanusiaan (bukan ”koin untuk presiden”) meski ada juga yang ribuan kertas,  ke tempat yang telah disediakan. Melalui sesi ini anak-anak dididik untuk memiliki sikap peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuan, khususnya korban bencana alam. Yang, harus kita akui bersama bahwa sikap-sikap humanis semacam itu telah demikian menipis dalam kehidupan bermasyarakat. Maka, penting kiranya mendukung gerakan kemanusian yang dibiakkan melalui kegiatan-kegiatan kolektif, semacam di kepanduan itu.

Di lumbung penciuman/pembauan, para peserta dididik untuk mengenal lebih dekat tanaman obat. Dengan cara mencium salah satu rempah-rempah/tanaman obat, peserta dituntut untuk dapat mengetahui tanaman obat apa, berguna untuk penyakit apa, dan bagaimana cara memanfaatkannya, bahkan cara menanamnya. Sesi ini sungguh penting bagi anak-anak yang terutama hidup di wilayah pedesaan, yang jauh dari apotek, puskesmas, dan rumah sakit. Pengenalan obat-obat kategori herbal ini akan sangat menolong, barangkali sebagai tindakan awal, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).

Menjadi ajang yang menarik juga karena melalui pesta siaga itu anak-anak dari berbagai sekolah dapat bertemu dalam satu aktivitas. Mereka pada akhirnya mengenal satu dengan yang lain. Sikap hormat-menghormati pun dapat ditumbuhkan. Bahkan, anak-anak dapat saling belajar satu dengan yang lain. Menciptakan wahana belajar lintas sekolah yang demikian sangat memperkaya pengetahuan peserta didik. 

Kegiatan yang dipusatkan di lingkungan Museum Kretek ini, berarti juga mendekatkan fakta budaya (lokal) kepada generasi penerus. Para peserta yang sama sekali belum pernah berkunjung ke Museum Kretek, salah satu objek wisata budaya, akhirnya mengenal keberadaan Museum Kretek.       

MUSEUM KRETEK: Objek wisata budaya lokal, yang menyuguhkan peradaban kretek di tanah Jawa.

 

Museum Kretek adalah nama sebuah museum yang terletak di Kudus, Jawa Tengah. Museum kretek didirikan bertujuan untuk menunjukkan bahwa kretek berkembang sangat pesat di Jawa khususnya di Kota Kudus. Di museum ini diperkenalkan mulai dari sejarah tentang kretek hingga proses produksi rokok kretek, mulai dari pembuatan secara manual sampai menggunakan teknologi modern.

Museum Kretek merupakan satu-satunya museum rokok di Indonesia. Di sana juga bisa ditemukan siapa saja tokoh-tokoh yang berperan besar dalam memajukan bisnis rokok di Indonesia.

Bangunan Museum Kretek yang berdiri di atas areal seluas 2 hektar ini terbilang sangat indah dan megah. Di depannya ada dua bangunan terpisah berasitektur rumah adat Kudus dan surau gaya Kudus. Interior Museum dipenuhi dengan patung-patung dan berbagai macam perlengkapan pembuatan rokok. Patung-patung yang apik itu adalah hasil karya seniman-seniman Kudus, khususnya dari kalangan pendidik.

Lokasi Museum ini tak terlalu sulit untuk dijangkau, baik dengan kendaraan pribadi maupun umum. Kota Kudus, yang terletak 50 km timur Semarang, paling tidak bisa menghabiskan waktu kurang dari satu jam dari Semarang. Terletak di Desa Getas Pejaten No. 155, Kecamatan Jati, Kudus, Jateng.

Bangungan yang diresmikan dan dibuka pada tahun 1906 ini merupakan gagasan dari gubernur Jawa Tengah pada waktu itu yaitu H. Soepardjo Roestam dengan tujuan untuk menyelamatkan dan menyajikan benda-benda koleksi yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan rokok kretek di kota Kudus. 

Sampai saat ini, Museum Kretek merupakan museum rokok terbesar di Indonesia. Untuk mengenang para tokoh yang telah berjasa besar dalam industri rokok di Kudus, pengelola museum mengabadikan figur mereka melalui lukisan-lukisan yang dipajang di dinding museum.

Di dalam Museum Kretek ini tersimpan berbagai peralatan dan mesin-mesin tradisional pembuatan rokok kretek dan rokok klobot serta sarana promosi rokok pada masa itu. Secara umum, ada lima koleksi besar alat produksi rokok di museum ini: koleksi gilingan cengkeh (alat perajang cengkeh glondong), koleksi gilingan tembakau (alat pengurai tembakau), koleksi krondo (alat untuk memisahkan batang tembakau yang kasar dan yang halus), dan koleksi alat perajang tembakau. 

Selain itu pengunjung juga dapat melihat foto-foto dokumentasi lintasan sejarah rokok kretek Kudus dan juga dapat mengamati diorama yang menggambarkan proses produksi baik secara tradisional (dengan tangan tanpa alat bantu dan produksi rokok giling tangan yang menghasilkan rokok kretek dan rokok klobot) maupun proses produksi rokok filter dengan mesin modern.

Selain itu, di Museum Kretek, kini, dilengkapi dengan arena bermain untuk anak dan film dokumenter mengenai kretek.  (Tulisan diolah dari berbagai sumber)

Ditulis pada Publik | Tinggalkan Komentar

Menghargai Bahasa Si Kecil

MENGHARGAI: Kesalahan fatal kita adalah ketika kita kurang bisa menghargai si kecil berbahasa. Kelemahan apa pun dalam berbahasa anak, melarang hati kita untuk menyalahkan adalah solusi yang menumbuhkan karakter. (gambar diambil dari ita-agusdiary.blogspot.com)

Saya sungguh bangga memerhatikan perkembangan bahasa pada diri anak kami yang bungsu, yang kini memasuki usia tiga tahun. Perkembangan bahasa lisan/ucapnya yang terlihat begitu jelas. Dari waktu ke waktu, perkembangan itu semakin menarik untuk dicermati. Sebab, kosa kata yang dikuasainya begitu cepat bertambah.

Pertambahan kosa kata itu, saya kira (terutama) karena faktor lingkungan. Kakaknya dan juga kami, orang tua, ketika berbicara menjadi sumber inspirasi kosa kata bagi si bungsu. Kata-kata yang kami ucapkan dalam berkomunikasi keluarga sehari-hari seakan begitu cepatnya ditirukan. Teman-teman bermainnya, yang beragam usia (kecil dan besar) pun memperkaya kosa kata si bungsu. Begitu juga tayangan televisi yang boleh dibilang tak pernah sepi dari pekerja-pekerja televisi yang ”kaya” kosa kata itu. Mereka menjadi sumber yang dahsyat akan perkembangan penguasaan kosa kata, tak hanya bagi si bungsu, tapi banyak orang.

Saya tidak pernah menghitung jumlah kosa kata yang dikuasai si bungsu. Tetapi saya berkeyakinan si bungsu telah menguasai puluhan bahkan barangkali sampai ratusan kosa kata. Itulah yang membanggakan saya. Karena, di sisi lain masih banyak anak seusia si bungsu mengalami kesulitan dalam menguasai kosa kata; si bungsu memiliki kekayaan kosa kata, yang menurut saya begitu rupa. Sampai-sampai suatu ketika kami dibuat geli karena si bungsu secara tiba-tiba mengucapkan kata-kata yang boleh dibilang kurang familiar diucapkan anak seusianya, yakni ”posisi”. Yang, diucapkan serentetan dengan kata-kata yang lain. Entah dari mana persisnya kata itu ”disadap” si bungsu. Tapi, tentu saja ada sumbernya.

Perilaku berbahasa si bungsu memiliki media untuk semakin (bisa) bertumbuh, yang saya yakini terjadi juga pada anak lain seusianya yang memiliki kakak. Kakak, meskipun perannya tidak secara sengaja, dapat menjadi motivator bagi si bungsu untuk belajar berbahasa. Ketika si sulung belajar, yang terlihat memegang buku, si bungsu pun menirukan. Ia meminta buku, lantas bergaya seperti orang sedang membaca. Ketika sedang begitu, kebiasaan si bungsu yang saya cermati adalah meluncurkan banyak kata dari mulut mungilnya sembari membuka buku. Kata-kata yang tertumpah dari mulutnya itu sangat menggelikan kami. Begitu lancarnya terucap hingga kami tak mengerti maksudnya, karena memang kata-kata itu tak selalu memiliki hubungan makna. Terus ”berkicau” dengan kata-kata yang saya yakini tak melalui proses seleksi. Misalnya, serentetan kata-kata berikut, makan minum ayah membaca setelah posisi berbicara bermain duduk pisang goreng rumah sakit ibu, dan seterusnya dan seterusnya, sembari menatap halaman buku.

Si bungsu semakin bergairah ”membaca” ketika dalam satu deretan kata-kata yang panjang berhenti, lantas kami sambung dengan tepuk tangan. Tepuk tangan itu kami maknai sebagai sebuah penghargaan. Barangkali karena si bungsu memahami hal itu sebagai sebuah penghargaan, ia pun akhirnya turut bertepuk tangan. Manakala tepuk tangan berhenti, lantas kami menyuruh si bungsu membaca lagi, spontan aksi ”membaca” pun terjadi. Kata-kata meluncur deras sederas-derasnya, namun tak bermakna.

Sekali pun demikian, tak ada salahnya jika media untuk kegairahan belajar berbahasa pada si kecil itu (sengaja) diciptakan. Yang juga penting adalah membangun suasana hati si kecil untuk terus mau belajar berbahasa. Mematahkan semangat belajar berbahasa dengan ”menyalahkan” karena apa yang diucapkan tak benar dan tak bermakna, misalnya, sebagai tindakan yang keji, tak berbudaya. Saya pikir, meskipun kata-kata yang terucap kini belum bermakna, lambat laun, kebermaknaan itu akhirnya dapat juga ditemukan. Bukankah begitu?

Ditulis pada Bahasa | Tinggalkan Komentar

Formula Baru UN di Mata Siswa

UJIAN: Membangun sikap positif siswa dalam menghadapi ujian nasional (UN) sebagai upaya yang tidak dapat dihindari.

Formula baru ujian nasional (UN) 2011, kini beritanya telah tersebar luas ke semua lapisan masyarakat. Tidak hanya terekam  sampai di level masyarakat/lembaga pengelola pendidikan, tetapi telah terdengar hingga di telinga siswa dan orang tua/wali murid. Formula baru UN yang sampai di telinga siswa, yang kini sering dikasak-kusukkan di antara mereka adalah, tidak hanya nilai kelulusan yang merupakan gabungan nilai UN dan nilai sekolah. Tetapi, mereka juga telah mendengar bahwa mata pelajaran (mapel) Pendidikan Agama Islam (PAI) di-UN-kan. Di samping itu, adanya informasi jumlah paket soal, yang diperkirakan ada lima paket pun telah mereka ketahui.

Kalau tahun kemarin hanya ada dua paket soal, yakni paket A dan B telah menimbulkan  ”ketegangan” bagi sebagian besar siswa, maka dapat dipastikan semakin ”teganglah” kini karena ada lima paket soal (A, B, C, D, dan E). Dengan ada dua paket soal, siswa di sekolah ”nakal” membayangkan lebih ada peluang  untuk bekerja sama dengan teman, tetapi kehilangan peluang ketika ada lima paket soal karena dalam satu ruang (yang ada 20 siswa itu) tentu hanya empat siswa yang mengerjakan paket soal sama. Apalagi dapat dipastikan, tempat duduk mereka saling berjauhan.

Maka, wajar jika kemudian banyak siswa menilai, UN 2011 ini nanti lebih menyulitkan. Menyulitkan dalam arti tidak mudah membangun ”kerjasama nakal” antarteman. Kalau pun tahun-tahun yang lalu pernah disinyalir ada kunci yang disebarkan melalui short message service (SMS) dari satu sekolah ke sekolah lain atau dalam sekolah sendiri, maka, jika hal seperti itu benar-benar ada, dapat dibayangkan betapa semrawut dan kacaunya kunci lewat SMS itu nantinya karena ada lima paket soal. Memilih mana yang benar dan cocok dengan paket soal, bukan hal mudah. Apalagi jika ada pihak-pihak tertentu yang memiliki motif ingin mengacaukan pelaksanaan UN dengan menyebar kunci jawaban palsu. Tentu bertambah ruwet.

Perihal tingkat kesulitan soal, barangkali kurang lebih sama dengan soal UN tahun lalu. Karena, standar kompetensi lulusan (SKL)-nya tidak jauh berbeda dengan SKL tahun-tahun lalu. Sayang, sekalipun SKL itu telah disampaikan kepada siswa jauh-jauh hari sebelun UN berlangsung dengan maksud agar belajar lebih terfokus, ternyata tak membuat siswa dapat belajar lebih nyaman karena beban psikologis UN (ternyata pula) telah menghantui benak mereka.   

Itulah sebabnya ketika ada banyak pihak yang memandang bahwa kelulusan tahun ini nanti lebih mudah karena nilai lulus berasal dari nilai gabungan, tidak demikian di mata siswa. Siswa masih memandang betapa kali ini UN semakin memberatkan. Apalagi dikabarkan ada UN mapel PAI. Beban belajar siswa yang beragama Islam menjadi bertambah, sementara siswa non-Islam tidak. Kenyataan ini bukan tidak mungkin (dapat) menimbulkan konflik batin bagi sebagian siswa. Mengapa yang ini ya, yang itu tidak? Bagaimana nanti mengolah nilainya? Andai kelak nilai UN mapel PAI yang membuat seorang siswa tidak lulus, apa tidak menimbulkan persoalan yang lebih pelik?

Karenanya, barangkali yang lebih baik adalah menumbuhkan sikap positif siswa. Yaitu, membangun mental yang tangguh. Sebab, mau tidak mau, formula UN baru tetap akan diberlakukan. Rasa takut, khawatir, cemas, resah, dan gelisah jangan diberi ruang untuk bisa bertumbuh, yang akhirnya mengganggu benak dan pikiran anak. Maka, dibutuhkan peran guru, lebih-lebih orang tua/wali murid dan kerabat untuk mau hadir di tengah-tengah anak tidak hanya sekadar memotivasi, tetapi memberi pendampingan berkelanjutan.

Ditulis pada Publik | Tinggalkan Komentar

Jalan Rusak, Segera Pemerintah Turun Tangan

TERGULING: Truk bermuatan kertas terguling karena kerusakan jalan.

Rusaknya jalur protokol Kudus-Pati, Jawa Tengah (Jateng), ternyata menimbulkan dampak buruk terhadap jalan-jalan alternatif yang berada di wilayah Kudus dan Pati. Akibat kerusakan amat berat jalur utama yang sulit dilewati itu, mengarahkan setiap kendaraan yang menuju/dari Surabaya-Semarang itu melintas di jalan-jalan alternatif.  Bisa jadi karena tidak ada pilihan lain, jalan alternatif yang seharusnya hanya boleh dilewati kendaraan tertentu, semua kendaraan (terpaksa) melewatinya.

Dapat ditebak, pada akhirnya jalan alternatif itu pun turut rusak. Kerusakan jalur alternatif ini menambah data kekurangbecusan pemerintah yang berwenang dalam menyediakan sarana infrastruktur publik bagi masyarakat. Akibatnya, masyarakat mengalami penderitaan. Tidak hanya masyarakat luas yang memanfaatkan jalur alternatif itu, tetapi juga masyarakat di sepanjang jalan alternatif itu. Faktanya, karena dipaksakan, beberapa kendaraan mengalami kecelakaan; jalan rusak, tak lagi nyaman dilewati. Mobilitas masyarakat akhirnya terganggu.

Polisi yang sekalipun hujan deras tetap mengatur arus lalu lintas selama 24 jam, ternyata tak signifikan meringankan beban masyarakat. Masyarakat harus mengeluarkan banyak dana, tenaga, dan waktu di perjalanan karena kemacetan hampir dijumpai di setiap jalan. Dan, disadari atau tidak, kondisi itu berdampak juga pada tekanan psikologis.

Jika kondisi demikian tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin menimbulkan kerusuhan di tingkat akar rumput. Awalnya barangkali masyarakat yang jalan desanya dilewati kendaraan melebihi beban, hanya memblokade jalan. Melarang kendaraan besar melewati jalan desa itu. Tetapi fakta yang terjadi, sempat (juga) di beberapa desa melarang motor luar desa/wilayah itu melewatinya. Jalan desa itu hanya boleh dilewati kendaraan warga setempat. Bukankah ini tidak (akan) memicu peselisihan antarwarga?

Maka, tak perlu ditunda-tunda lagi. Tak perlu diperdebatkan lagi di ranah politik. Segeralah pemerintah turun tangan menangani persoalan publik ini. Untuk sementara abaikan nilai proyek untuk kepentingan pribadi/kelompok. Dalam situasi seperti ini, menempatkan persoalan sosial masyarakat yang mulai meresahkan warga di atas semua ”keinginan” pribadi/kelompok, menjadi hal yang mutlak.

Ditulis pada Publik | 6 Komentar

Sekarang, Suhu UN Sudah (Mulai) Meningkat

UJIAN NASIONAL: Mempersiapkan diri secara mental dan materi dalam menghadapi ujian nasional sebagai investasi pendidikan masa depan.

Meski ritual ujian nasional (UN) untuk SMP, SMA/SMK, dan sekolah yang sederajat masih beberapa bulan lagi, tetapi suhu aktivitas yang terlihat telah meningkat. Di beberapa sekolah, misalnya, mulai diadakan kegiatan tambahan pelajaran. Tambahan pelajaran yang diberikan kepada siswa kelas sulung itu, baik di jenjang SMP, SMA/SMK, atau yang sederajat, umumnya dilaksanakan sehabis jam pelajaran pagi. Sehingga siswa pulang sekolah relatif agak sore. Harus diakui bahwa pelaksanaan pelajaran tambahan yang demikian itu, dapat dibilang kurang efektif. Sebab, kondisi pikiran dan emosi siswa dan guru telah sampai pada ”fase lelah”. Yang, tentu berdampak pada kurangnya daya serap pikiran atas materi yang disampaikan.

Namun, karena alternatif itu jika dibandingkan dengan pilihan lain dipandang masih lebih baik, maka model demikian itu diberlakukan di beberapa sekolah.  Pilihan lain itu, misalnya, pelajaran tambahan diberikan sore hari. Tetapi, pengalaman menunjukkan bahwa (ternyata) banyak siswa yang tidak datang. Bisa jadi karena faktor, ketiduran, malas kembali ke sekolah, atau malas karena faktor keadaan (misalnya, hujan). Inilah kemudian yang mengarahkan banyak sekolah mengambil kebijakan pelajaran tambahan dilangsungkan (saja).

Tak jauh berbeda keberadaan lembaga bimbingan belajar (bimbel). Di bimbel-bimbel sekarang mulai terlihat adanya kesibukan. Mulai dari waktu sehabis sekolah formal (para siswa pulang sekolah) hingga malam hari (sekitar pukul 20.00 WIB bahkan lebih), bimbel-bimbel tersebut terlihat dikerubuti anak-anak, baik anak SD, SMP/MTs, maupun SMA/SMK dan yang sederajat. Demikian juga orang per orang yang membuka les di rumah, bisa dipastikan banyak didatangi anak. Baik yang di bimbel maupun di rumah, umumnya membuka beberapa  putaran karena pertimbangan tempat/daya tampung. Di samping tentu karena peserta bimbel/les membludak di waktu-waktu menjelang UN seperti saat ini.

Fakta yang juga terbaca adalah orang tua/wali harus menyediakan banyak waktu, tenaga, dan (yang pasti) biaya. Orang tua/wali terlibat (langsung) dalam antar jemput anak, yang tentu membutuhkan waktu dan tenaga. Penyedian anggaran menjelang UN bertambah, tak hanya untuk membayar bimbel/les, tetapi juga membeli buku-buku yang dibutuhkan. Dengan demikian, orang tua/wali perlu pandai-pandai membagi tenaga, waktu, dan uang.

Banyak juga dijumpai adanya lembaga-lembaga yang bergerak di bidang motivasi datang ke sekolah-sekolah untuk menawarkan jasa motivasi. Mereka telah menyediakan berbagai materi yang berhubungan dengan bagaimana siswa harus mempersiapkan diri secara mental dan psikologis dalam menghadapi UN.  Banyaknya anak yang mengalami tekanan/depresi dalam menghadapi UN, munculnya motivator ke sekolah-sekolah menjadi jawaban/solusi. Karenanya, tak jarang sekolah memanfaatkan jasa tersebut untuk memotivasi para siswanya.  

Dan, barangkali persiapan mental inilah yang sungguh diperlukan. Karena, dengan adanya persiapan mental yang teguh, siswa (akan) lebih dapat menata diri secara cermat. Terutama (menata diri) dalam belajar, baik di sekolah, bimbel, maupun di rumah. Oleh karena itu, persiapan mental tak cukup hanya lewat jasa motivator atau pun guru.  Jauh lebih efektif jika persiapan mental dalam menyongsong UN mulai dikerjakan dalam tiap-tiap keluarga yang  berkepentingan.

Ditulis pada Publik | 14 Komentar

Membangun Kepribadian Membaca

KEPRIBADIAN MEMBACA: Membangun kepribadian membaca lebih menyentuh dari bacaan-bacaan yang ringan.

Dari hal yang (dianggap) sederhana sekalipun, jika diapresiasi (positif), akan dapat membawa perubahan menakjubkan. Membawa perubahan menakjubkan karena orang/pihak yang diapresiasi merasa mendapat perhatian. Aktivitas yang selama ini dilakukan boleh jadi akan semakin diintensifkan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan memulai memperluas jangkauan. Sehingga, membawanya pada peluang yang lebih baik.

Sebaliknya, jika hal yang dianggap sederhana itu tanpa diapresiasi, atau malah tak diacuhkan, bukan tidak mungkin menimbulkan kemandegan. Orang/pihak yang selama ini telah beraktivitas, bisa jadi berhenti. Atau barangkali tak lagi nyaman melakukan. Semangat beraktivitas mulai rapuh karena kondisi lingkungan kurang mendukung. Tentu hal ini sangat berdampak pada tertutupnya peluang baik ke masa depan.

Gambaran demikian itu dapat saja terjadi pada orang/pihak yang (telah) menyukai membaca koran, komik, tabloid, dan semacamnya, tapi kurang memperoleh apresiasi. Karena ternyata sebagian orang (kini) masih ada yang beranggapan bahwa media semacam itu termasuk bacaan ringan. Dan karenanya kurang penting untuk dikonsumsi. Barangkali orang/pihak yang memiliki anggapan seperti itu, membaca koran, komik, dan tabloid kurang bermanfaat. Tidak ada ilmu/teori-teori/konsep-konsep yang dapat dimanfaatkan sebagai bekal bagi keberlangsungan hidup. Paling-paling hanya berisi hal yang bersifat enterpreanur, isu-isu, provokatif, dan kejutan-kejutan sesaat. Sehingga, sekali lagi, orang/pihak yang beraktivitas  (dianggap) tidak akan menemukan ”apa-apa” dari sana.

Berbeda dengan orang yang menyukai membaca buku. Mereka akan mendapat perhatian bahkan pujian dari banyak orang/pihak. Karena, sebagian besar orang/pihak beranggapan bahwa buku merupakan media berbobot. Media yang mengandung banyak ilmu/teori-teori/konsep-konsep yang tidak dapat ditemukan di koran, majalah, komik, atau tabloid. Menurut saya, kerangka berpikir demikian sejatinya menjerumuskan pembentukan kepribadian membaca.

Memang harus diakui bahwa buku memuat nilai pengetahuan dan ilmu yang lebih mendalam. Tetapi, bukan berarti media koran, tabloid, komik, dan majalah yang dianggap rendah kandungan pengetahuan dan ilmunya itu tidak berguna. Media koran, tabloid, komik, majalah, dan sejenisnya (yang dianggap bacaan rendah sebagian orang) itu justru memiliki peran penting sebagai jembatan untuk menuju ke bacaan yang lebih serius.

Karenanya, sangat disayangkan jika ada sebagian orang yang masih beranggapan rendah terhadap keberadaan media nonbuku itu. Membangun kepribadian membaca sebetulnya dapat dibangun melalui media nonbuku. Bukankah bayi makan dan minum bubur dan susu terlebih dahulu? Yang lunak-lunak dulu, untuk kemudian menuju ke yang agak keras dan semakin keras. Begitulah saya pikir membangun kepribadian membaca, terlebih bagi anak-anak. Bagimana?

Ditulis pada Bahasa | 2 Komentar