
KREATIVITAS ANAK: Memberi peluang anak untuk menumbuhkan kreativitas diri, membangun peradaban terdepan. (gambar diambil dari www.kabarindonesia.com)
Banyak kemudahan yang kita peroleh di alam modern ini. Kita tidak perlu repot-repot lagi ketika mau mengundang orang yang berada jauh dari kita. Cukup pencet beberapa nomor, suara kita telah sampai di ujung telinga orang yang kita tuju. Lantas komunikasi dua arah dapat terjalin begitu lancar dan dalam hitungan menit bahkan detik, maksud kita telah tersampaikan. Berbagai informasi terkini dapat diikuti tanpa harus menunggu. Hal yang terjadi di Mesir akhir-akhir ini, yakni ”keberingasan” rakyat karena selama puluhan tahun berada dalam kediktatoran Hosni Mubarak, misalnya, langsung dapat kita lihat pada detik yang sama di lain tempat. Tak perlu kita datang ke pusat kota Kairo jika ingin melihat jutaan orang berdemo itu, tapi cukup duduk di depan layar kaca dalam rumah, dapat mengikutinya dengan jelas.
Air minum di rumah habis, kemudian menghubungi agen penyedia air minun lewat telepon, beberapa menit air minum itu telah sampai di rumah. Ada jasa antar, tetapi biayanya relatif murah. Jadi, lebih ekonomis, praktis, dan cepat tersaji. Demikian juga untuk berbagai jenis makanan. Cukup menghubungi agen penyedia makanan lewat telepon, makanan segera diantar ke tempat kita berada. Apalagi jika fasilitas internet tersedia di rumah, kita mau apa saja bakal keturutan. Tidak hanya memesan sesuatu, tetapi berjualan apa saja ke seluruh tempat (yang ada jaringan internetnya) dapat terjangkau. Kita tidak perlu susah-susah datang dari rumah ke rumah calon konsumen. Cukup mengendalikan gerak pemasaran dari dalam rumah, semua barang/jasa yang kita tawarkan sampai ke hadapan calon konsumen. Hal-hal itu, diakui atau tidak, sebagai produk modernitas.
Itulah yang menguatkan saya untuk ”mengamini” pernyataan seorang teman yang mengatakan bahwa anak-anak zaman sekarang begitu mudahnya memenuhi keinginannya. Sebab, semua memang telah tersedia. Tidak perlu membuat sendiri mobil-mobilan, misalnya, ketika mengingininya. Tetapi, anak cukup membeli saja karena mobil-mobilan itu telah dipajang di rak-rak toko. Bahkan, banyak pilihan dari berbagai segi yang dikehendaki, apa dari segi besar-kecilnya, warnanya, bentuknya, bahannya, dan sebagainya. Kesimpulannya kemudian, segala sesuatu yang dibutuhkan anak (telah) tersedia dengan berbagai alternatif yang menarik.
Akan tetapi, pada titik inilah saya merasa prihatin. Karena kemodernan ternyata membunuh daya kreasi anak. Coba Anda bayangkan! Karena segala sesuatu yang dibutuhkan anak, taruhlah (saja) misalnya mainan, telah tersedia, anak tak lagi memiliki keinginan untuk membuat mainan. Anak hanya meminta uang kepada orang tua, lantas membeli mainan itu. Dengan begitu, keinginannya telah terpenuhi bukan? Dan, jarang atau bahkan tidak ada (sama sekali) orang tua yang mau menolak permintaan anaknya, untuk kemudian mengajak anaknya secara bersama-sama membuat mainan itu. Alasannya tidak lain adalah karena kesibukan. Maka, yang terjadi kemudian anak-anak menjadi pasif. Bersikap menggantungkan saja. Daya kreasi yang sesungguhnya telah ”ditiupkan” oleh Sang Khalik kepada setiap anak, tidak pernah tumbuh.
Saya akhirnya teringat masa kanak-kakak saya dulu. Bersama teman-teman, saya sering membuat wayang-wayangan dari batang daun singkong dengan cara menganyamnya menyerupai tokoh-tokoh wayang. Membuat topeng dari kelopak batang bambu petung dengan cara menggambar wajah tokoh tertentu di salah satu permukaannya dengan arang kayu bakar. Membuat golek dari pelepah pohon pisang dan menari-tarikannya. Membuat layang-layang dari daun kering pohon gadung. Membuat patung-patungan dari tanah liat yang tersedia di daerah kami. Membuat layang-layang, baik dari bahan plastik maupun kertas. Bahkan kadang kami bersama-sama membuat mobil-mobilan dari pelepah pohon gedobos/rumbia yang telah kering, juga dari kulit jeruk bali.
Bertolak dari semua itu, kini (akhirnya) saya berpikir bahwa ketika itu anak-anak memiliki daya kreasi yang bisa dibilang relatif tinggi. Karena memang waktu itu, di samping belum ada ”ketersediaan” segala sesuatu yang dibutuhkan anak-anak; bahan dan peralatan untuk berkreasi (sendiri) relatif terjangkau oleh mereka. Akhirnya kreativitas anak-anak terwadahi, dalam arti anak-anak tidak hanya memanfaatkan tetapi juga menghasilkan karya kreatif. Jauh berbeda dengan anak-anak sekarang, yang cenderung hanya ”menggunakan” hasil kreativitas yang memang telah tersedia.






